|
Ponari dan Sulitnya Ekonomi
Oleh Juwair, Sandy Ferdiana Fenomena Mohamad Ponari (9 tahun) warga Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, yang diyakini sejumlah orang bisa mengobati penyakit, barangkali layak masuk rekor dunia. Ini jika dilihat dari banyaknya pasien yang datang ke rumahnya untuk minta diobati. Beberapa hari terakhir, puluhan ribu orang tumplek-blek di dusunnya, menanti sentuhan batu miliknya. Sejak namanya melambung, sekitar dua pekan lalu, rumahnya dibanjiri puluhan ribu calon pasien dengan berbagai penyakit. Calon pasien yang datang itu berasal dari berbagai daerah di Tanah Air. Mereka berharap Ponari yang masih duduk di kelas tiga SD ini bisa memberi obat, sehingga penyakit yang dideritanya bisa sembuh. Tentu saja, membanjirnya massa dari berbagai daerah itu membuat repot aparat keamanan Kabupaten Jombang. Apalagi, saat antre untuk mendapatkan pengobatan Ponari, empat nyawa sudah melayang. Karena itulah, Muspida Kabupaten Jombang meminta praktik pengobatan itu dihentikan, mulai Kamis (12/2). Meski demikian, masih saja banyak orang dari luar daerah yang mendatangi rumah Ponari. Mereka berharap Ponari tetap membuka praktik dan memberi pengobatan. ''Ponari itu diberi kelebihan oleh Tuhan. Karena itu, kami mohon dia tetap buka praktik,'' ujar seorang wanita Sidoarjo yang sedang mengantre di depan rumah Ponari, kemarin. Kemarin, Ponari dikabarkan tidak berada di rumah. Menurut petugas yang menjaga rumah itu, Ponari beserta orang tuanya sedang keluar. Sang petugas mengaku tak mengetahui ke mana mereka pergi. Celup batu Pengobatan tak lazim itu didapati Ponari saat bermain di bawah guyuran hujan deras dan yang ditingkahi sambaran petir. Tiba-tiba, tubuh bocah itu kemasukan hawa panas, seperti baru terkena sambaran petir. Saat itulah, di bawahnya muncul batu sebesar kepalan tangan, berwarna kehitaman. Batu ini, oleh Ponari, dibawa pulang. Oleh neneknya, batu itu sempat dibuang. Namun, menurut cerita, batu tersebut muncul kembali di rumahnya. Ihwal berita bahwa Ponari bisa mengobati penyakit, terjadi setelah salah seorang tetangganya menderita sakit. Tanpa sadar, Ponari memberi minuman air putih, yang dicelupi batu itu. Menurut pengakuan warga di dusun itu, orang yang diberi minuman Ponari itu bisa sembuh. Peristiwa ini menjadi bahan pembicaraan warga dusun. Selanjutnya, lewat 'radio dengkul' alias dari mulut ke mulut, cerita itu pun menyebar ke berbagai tempat: bahwa di Dusun Kedungsari, muncul dukun tiban yang bisa mengobati segala macam penyakit. Puluhan ribu orang pun kemudian berbondong-bondong ke sana. Calon pasien yang datang bukan hanya orang miskin, tapi juga orang-orang kaya--terutama yang frustrasi karena penyakitnya tak kunjung sembuh meski sudah berobat ke dokter. Jalan ke rumah Ponari makin padat--hingga kemudian menyebabkan empat orang tewas karenanya--setelah cara pengobatan 'celup batu'-nya dipublikasikan oleh media. Lalu, sembuhkan pasien yang 'berobat' ke sana? Ada yang menyatakan sembuh, tapi banyak yang menyatakan tak ada perubahan sama sekali. Rasyid, asal Tulungagung, menyatakan stroke yang dideritanya bisa sembuh setelah minum air putih yang dicelupi batu milik Ponari. Lain halnya yang dialami Mohamad Amir, warga Jogoroto, Jombang. Meski sudah 'berobat' ke Ponari, asam uratnya tak kunjung sembuh. ''Saya sudah dua kali berobat, dan tak ada perubahan,'' keluhnya. Hati-hati Sosiolog Universitas Padjadjaran, Bandung, Budi Rajab, mengatakan, sulit mengikis kepercayaan masyarakat terhadap keajaiban di balik dukun cilik Ponari. Fenomena Ponari, kata dia, pasti akan dilirik oleh masyarakat yang tingkat ekonominya belum mapan. Tapi, kalangan profesional pun tak tertutup kemungkinan memilih Ponari sebagai alternatif dalam menyembuhkan penyakitnya. Karena dukun cilik langka, Budi mengungkapkan masyarakat pun penasaran, kendati banyak dukun dewasa yang membuka praktik pengobatan serupa. ''Dukun memang dipercaya oleh masyarakat. Tapi, dukun yang masih kecil jauh lebih dipercaya,'' kata Budi. Dia mengatakan masyarakat akan menilai anak kecil lebih tulus dalam memberikan pertolongan. Lain halnya dengan dukun dewasa yang cenderung pragmatis dalam memberikan pertolongan. Tapi, Budi khawatir Ponari dimanfaatkan oleh orang dewasa. ''Khawatirnya dikomersialkan oleh orang dewasa di sekitarnya. Sampai-sampai Ponari lupa sekolah,'' sesalnya. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jombang, KH Kholil Dahlan, mengingatkan masyarakat yang berobat kepada Ponari untuk tidak meyakini batu milik Ponari bisa menyembuhkan segala macam penyakit, juga tidak meyakini bahwa Ponari bisa menyembuhkan penyakit. Keyakinan seperti itu, kata dia, bisa merusak akidah. ''Ikut pengobatan seperti yang dilakukan Ponari, akidah harus kuat. Kalau akidah tidak kuat, bisa berubah menjadi syirik,'' katanya. Menurut dia, berobat ke Ponari boleh-boleh saja, tapi harus meyakini bahwa yang bisa menyembuhkan penyakit hanya Allah SWT. Untuk menyembuhkan penyakit, kata dia, Allah memberikan berbagai macam cara. Di antaranya melalui ilmu kedokteran. Tapi, ilmu ini juga perantara saja. Dosen STAI Nglawak, Mohamad Arif, menilai membanjirnya orang ke rumah Ponari itu merupakan cermin bahwa pelayanan kesehatan yang diberikan pemerintah saat ini belum memenuhi kebutuhan masyarakat. Akibatnya, masyarakat lari kepada cara pengobatan itu. Apalagi, biayanya pun murah. ''Jadi, faktor ekonomi sangat berpengaruh. Saat ini ekonomi sulit. Berobat ke dokter, biayanya mahal,'' katanya. Kondisi tersebut, kata Arif, juga merupakan cermin kondisi sosial masyarakat saat ini. Akibat berbagai beban kehidupan yang makin sulit, orang cenderung lari ke hal-hal yang bersifat supranatural dan irasional. Sebab, kesulitan hidup yang mereka alami, mereka rasakan tak bisa diselesaikan dengan hal-hal yang rasional. Bupati Jombang, Suyanto, menolak opini yang menyebutkan membanjirnya orang berobat ke Ponari karena pemerintah tidak mampu memberikan pelayanan kesehatan memadai. Saat ini, kata dia, klinik-klinik kesehatan sudah dibangun sampai di tingkat desa. Tapi, tampaknya banyak pihak perlu berintrospeksi dengan fenomena diserbunya pengobatan 'celup batu' ala Ponari itu. http://www.republika.co.id/koran/0/31274/Ponari_dan_Sulitnya_Ekonomi
|